Padang, 10 Agustus 2026 — Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) memberikan peluang baru bagi mahasiswa untuk menghasilkan produk teknologi yang semakin kompleks. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan informatika: bagaimana memastikan mahasiswa tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami konsep dan proses di balik produk yang dibangunnya.
Hal tersebut menjadi perhatian Ketua Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Padang (TI PNP), Dr. Ir. Yuhefizar, S.Kom., M.Kom., setelah mengikuti sidang tugas akhir salah seorang mahasiswa Program Studi Manajemen Informatika, Senin (10/8/2026).
Dalam sidang tersebut, mahasiswa mampu menghasilkan sebuah aplikasi yang dinilai sangat baik, kompleks, dan siap diimplementasikan oleh mitra. Bahkan, pihak mitra menyampaikan apresiasi karena aplikasi yang dikembangkan telah memberikan manfaat nyata bagi kebutuhan mereka.
Capaian tersebut menurut Yuhefizar merupakan sesuatu yang patut diapresiasi, khususnya karena mahasiswa program diploma mampu menghasilkan solusi teknologi yang kompleks dan memiliki nilai guna langsung bagi mitra.“Ketika mitra mengatakan bahwa mereka sangat terbantu dengan tugas akhir mahasiswa kita, tentu ini menjadi kebanggaan. Artinya, pendidikan vokasi yang kita jalankan mampu menghasilkan produk yang benar-benar menyelesaikan persoalan nyata,” ujarnya.
Namun, di balik keberhasilan produk tersebut, terdapat temuan lain yang menjadi bahan refleksi. Ketika mahasiswa diberikan pertanyaan mengenai konsep-konsep dasar yang menjadi fondasi pengembangan aplikasi, penguasaannya masih perlu diperkuat.
Setelah didalami, diketahui bahwa dalam proses pengembangan aplikasi tersebut mahasiswa memanfaatkan bantuan AI. Menurut Yuhefizar, kondisi tersebut tidak seharusnya langsung disikapi dengan melarang penggunaan AI. Justru, perguruan tinggi perlu menyiapkan mahasiswa agar mampu menggunakan AI sebagai bagian dari kompetensi profesional masa kini.
“AI bukan masalahnya. Yang perlu kita pastikan adalah mahasiswa tetap memahami dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang dibangun dengan bantuan AI. AI boleh membantu menghasilkan produk, tetapi tidak boleh menggantikan pemahaman,” tegasnya.
Produk Hebat Harus Diiringi Fundamental yang Kuat.
Perkembangan AI telah mengubah cara mahasiswa belajar dan menghasilkan produk teknologi. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup panjang, seperti menghasilkan kode program, query database, rancangan tertentu, dokumentasi, hingga proses debugging, kini dapat dibantu oleh AI.
Kondisi tersebut menurut Yuhefizar menuntut perubahan cara pandang dalam pembelajaran informatika.
Jika sebelumnya kualitas produk dapat menjadi salah satu indikator kemampuan mahasiswa, maka di era AI produk yang bagus tidak lagi otomatis menunjukkan bahwa mahasiswa memahami seluruh proses di balik produk tersebut. Karena itu, proses pembelajaran perlu semakin menekankan kemampuan mahasiswa untuk: memahami masalah dan kebutuhan pengguna; memahami konsep dasar; menjelaskan alasan pemilihan desain; memahami proses pengembangan sistem; memverifikasi hasil yang diberikan AI; mengambil keputusan teknis;serta mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.
“Kita tentu bangga jika mahasiswa mampu membuat aplikasi yang kompleks. Tetapi kita juga harus memastikan bahwa di balik aplikasi yang hebat itu terdapat mahasiswa yang memahami apa yang ia bangun,” ungkap Yuhefizar.
Sidang Tugas Akhir sebagai Cermin Proses Pembelajaran Lebih jauh
Yuhefizar mengajak para dosen melihat sidang tugas akhir tidak hanya sebagai tahapan akhir untuk menentukan kelulusan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa yang hadir di meja sidang sesungguhnya merupakan representasi dari proses pembelajaran yang telah dilalui selama berada di Jurusan TI. Karena itu, setiap sidang tugas akhir seharusnya juga menjadi kesempatan bagi dosen dan jurusan untuk mengevaluasi proses pembelajaran.
“Mahasiswa yang berdiri di meja sidang hari ini adalah wajah dari proses pembelajaran kita selama ini. Ketika kita menemukan ada konsep dasar yang belum dikuasai, jangan hanya melihatnya sebagai kelemahan mahasiswa. Kita juga perlu bertanya, apa yang perlu kita perbaiki dari proses pembelajaran kita?”
Pertanyaan tersebut, lanjutnya, perlu menjadi budaya refleksi bersama para dosen. Setelah menguji mahasiswa, dosen dapat membawa temuan dari sidang ke dalam evaluasi pembelajaran: Apa yang sudah berhasil diajarkan? Apa yang belum berhasil? Konsep apa yang mulai terlupakan? Mata kuliah mana yang perlu diperkuat? Metode pembelajaran apa yang perlu diperbaiki? Apa yang harus dilakukan agar angkatan berikutnya lebih baik?. Dengan demikian, sidang tugas akhir dapat berfungsi sebagai salah satu quality sensor bagi Jurusan TI.
Memperkuat Fundamental Tanpa Menolak AI.
Jurusan TI tidak memandang penggunaan AI oleh mahasiswa sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, literasi AI perlu menjadi bagian dari kompetensi mahasiswa.Namun, penggunaannya harus disertai kemampuan untuk melakukan verifikasi, memahami konsep, dan mempertanggungjawabkan hasil.Prinsip yang ingin dibangun adalah:
Use AI → Verify → Understand → Explain → Improve.
Mahasiswa boleh menggunakan AI sebagai alat bantu, tetapi tetap harus mampu menjelaskan dan mempertanggungjawabkan hasilnya.
Dalam konteks tugas akhir, misalnya, mahasiswa tidak cukup hanya mampu menunjukkan bahwa aplikasi berjalan. Mereka juga perlu mampu menjelaskan mengapa database dirancang dengan struktur tertentu, mengapa relasi antartabel dibuat demikian, mengapa suatu metode digunakan, bagaimana sistem bekerja, serta bagaimana solusi tersebut dapat dikembangkan ketika kebutuhan mitra berubah.
Dengan demikian, proses sidang tidak hanya menguji produk, tetapi juga menguji pemahaman dan kepemilikan kompetensi mahasiswa.
Dari Sidang Menuju Perbaikan PBM
Yuhefizar berharap para dosen penguji dapat memanfaatkan temuan selama sidang tugas akhir sebagai masukan untuk memperbaiki proses pembelajaran di masing-masing mata kuliah.Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari berapa banyak mahasiswa yang berhasil menyelesaikan tugas akhir atau berapa banyak aplikasi yang berhasil dibangun.
Yang lebih penting adalah memastikan bahwa lulusan memiliki kompetensi, pemahaman fundamental, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta integritas akademik.
“Kita tidak hanya ingin menghasilkan aplikasi yang bagus. Kita ingin menghasilkan lulusan yang memahami, mampu mempertanggungjawabkan, mengembangkan, dan memberikan solusi melalui apa yang mereka bangun,” katanya.
Karena itu, sidang tugas akhir diharapkan menjadi bagian dari siklus penjaminan mutu pembelajaran:
Uji → Temukan → Refleksikan → Perbaiki → Tingkatkan
Siklus tersebut menjadi penting di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kurikulum dan metode pembelajaran harus terus beradaptasi, tetapi fondasi keilmuan tetap harus menjadi pijakan.
“Teknologi boleh semakin cepat, produk boleh semakin canggih, dan AI boleh semakin pintar. Tetapi fundamental keilmuan mahasiswa harus tetap kuat,” tutup Yuhefizar.
Bagi Jurusan TI PNP, tantangan pendidikan di era AI bukan memilih antara AI atau fundamental, tetapi bagaimana keduanya dapat berjalan bersama: AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, fundamental sebagai fondasi untuk memastikan mahasiswa tetap berpikir, memahami, dan bertanggung jawab.AI boleh membantu mahasiswa membangun lebih cepat. Fundamental harus memastikan mahasiswa memahami apa yang dibangun.








